![]()
Berita Unlesa – Saumlaki, 23 Oktober 2026, Universitas Lelemuku Saumlaki (UNLESA) menggelar Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-4 Tahun Akademik 2025/2026 Sebanyak 150 lulusan diwisuda, terdiri dari 148 sarjana dan 2 lulusan Diploma Tiga Akuntansi.
Acara ini dihadiri unsur pimpinan universitas dan yayasan, perwakilan pemerintah daerah, LLDIKTI Wilayah XII, para orang tua, dan tamu undangan. Rektor UNLESA, Ferly A. Sairmaly, SE., M.Si, mengatakan wisuda bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar. Menurutnya, lulusan kini memasuki ruang pengabdian yang lebih luas di keluarga, masyarakat, dunia kerja, dunia usaha, dan pembangunan daerah. Ia menyebut membangun perguruan tinggi di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Kepulauan Tanimbar tidak mudah. Tantangannya antara lain kondisi geografis, keterbatasan akses, perubahan kebutuhan dunia kerja, dan perkembangan teknologi digital. Meski begitu, UNLESA diharapkannya menjadi harapan bagi generasi muda Tanimbar untuk mengembangkan diri dan ikut memajukan daerahnya.
Rektor juga menyinggung Proyek Strategis Nasional Blok Masela. Ia menilai proyek itu membuka harapan bagi pertumbuhan ekonomi, kebutuhan tenaga kerja, dan peluang kemitraan baru. Namun peluang tersebut, katanya, tidak otomatis mengatasi kemiskinan atau menjamin kesejahteraan seluruh warga. Diperlukan kesiapan sumber daya manusia, kemitraan yang adil, penguatan usaha lokal, dan tata kelola yang bertanggung jawab. Ia mengajak lulusan membaca peluang Blok Masela secara cerdas dan realistis, serta tidak membatasi diri pada kegiatan inti minyak dan gas.
![]()
Kepada para lulusan, Rektor menyampaikan lima pesan: terus belajar dan adaptif, menjadi pencipta peluang, membaca peluang Blok Masela secara realistis, menggunakan ilmu untuk kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta menjadi alumni yang membanggakan UNLESA dan Tanimbar. Ia juga menekankan peran nilai Duan-Lolat sebagai modal sosial pembangunan. “Jangan hanya bertanya, ‘Pekerjaan apa yang dapat saya peroleh dari pembangunan Tanimbar?’ Bertanyalah juga, masalah apa yang dapat saya selesaikan,” pesannya.
Dalam pidatonya, Rektor menyampaikan bahwa sekitar 95 persen keluarga wisudawan UNLESA berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ia menyebut banyak orang tua yang bekerja sebagai petani, nelayan, pekerja harian, atau pelaku usaha kecil, tetapi tetap berjuang membiayai kuliah anak-anaknya. Ia mengajak hadirin memberikan tepuk tangan bagi para orang tua. Menurutnya, pendidikan tinggi harus menjadi jalan mobilitas sosial bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Rektor juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah melalui program KIP Kuliah, serta kepada INPEX (INPEX Scholarship), Pertamina Foundation (Beasiswa Sobat Bumi), dan Van Deventer-Maas Indonesia atas dukungan beasiswa bagi mahasiswa. Apresiasi juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Pemerintah Provinsi Maluku.
Selanjutnya Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Rumpun Lelemuku Saumlaki, Polikarpus Lalamafu, S.Sos., MM, menyebut wisuda ke-4 ini sebagai momen sukacita yang menandai lahirnya “intelektual-intelektual baru”. Atas nama Dewan Pengurus Yayasan, ia menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan. Menurutnya, keberhasilan itu adalah buah ketekunan dan pengorbanan, di balik toga dan ijazah yang diterima terdapat doa tanpa henti orang tua serta dedikasi para dosen yang menuntun mahasiswa mengarungi ilmu pengetahuan.
![]()
Polikarpus menegaskan bahwa dunia akademik tidak dirancang hanya untuk mentransfer data atau mencetak tenaga kerja. Perguruan tinggi, katanya, adalah ruang penyemaian integritas pengetahuan dan pemikiran kritis, tempat mahasiswa dilatih untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu menganalisis, mempertanyakan, dan merumuskan pemikiran berdasarkan metodologi yang otentik. Ia mengingatkan bahwa di tengah era disrupsi teknologi dan banjir informasi, pengetahuan memang mudah diakses. Namun kebijaksanaan dan kemampuan bernalar secara etis tetap menjadi kekayaan manusia yang terpelajar. Di situlah, menurutnya, letak tanggung jawab moral para lulusan. Ijazah dan gelar akademik bukan jaminan keahlian yang statis, melainkan amanah untuk terus belajar dan menjadi jembatan pemikir di tengah kompleksitas tantangan zaman.
Polikarpus mengatakan yayasan didirikan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberi dampak nyata bagi kemanusiaan. Karena itu, ia berharap lulusan tidak tumbuh menjadi menara gading intelektual yang asing dengan realitas sosial di sekitarnya. “Jadilah pemecah masalah,” pesannya, sambil meminta lulusan menggunakan pendekatan ilmiah dan keahlian spesifik untuk menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat. Ia juga menyampaikan tiga pesan khusus. Pertama, menjaga integritas akademik dan etika, karena godaan mengambil jalan pintas akan selalu ada di dunia yang serba cepat. Kedua, tetap berpegang pada kejujuran dan nilai moral yang dipelajari selama kuliah. Ketiga, terus berinovasi, karena pengetahuan yang tidak diperbarui akan usang, dan semangat inkuiri hendaknya menjadi napas dalam karier dan kehidupan para lulusan.
Kepada para orang tua dan wali, Polikarpus menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada universitas dan yayasan. “Hari ini, kami kembalikan mereka kepada Anda dan masyarakat sebagai pribadi-pribadi yang lebih matang, berilmu, dan siap mengabdi,” ujarnya. Ia menutup sambutan dengan mengajak para wisudawan mengibarkan panji-panji kebenaran ilmiah, mengharumkan nama almamater, dan memberikan dedikasi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
![]()
Mewakili wisudawan dan wisudawati, Albertus A. P. S. MS. Ivakdalam dari Fakultas Hukum menyampaikan sambutan yang menyentuh. Albertus menggambarkan latar belakang para wisudawan yang beragam: ada yang merantau jauh dari rumah, ada yang kuliah sambil bekerja, ada yang aktif berorganisasi, dan ada yang diam-diam menyelesaikan studi tanpa banyak bercerita. Mereka semua pernah berangkat pagi dengan mata setengah terbuka, pulang malam dengan tugas menumpuk, dan kadang merasa sendirian di tengah keramaian. “Kita tumbuh bukan karena semuanya mudah, tapi karena kita memilih untuk tidak berhenti,” ujarnya. Sebagai lulusan hukum, ia mengutip Amsal 31 ayat 8–9 sebagai kompas yang akan dibawanya selama menyandang gelar sarjana hukum, tentang membela mereka yang tidak bersuara dan memperjuangkan keadilan bagi orang miskin dan sengsara. Baginya, ilmu hukum bukan sekadar hafalan pasal, melainkan panggilan untuk bersuara bagi mereka yang suaranya tidak terdengar.
Albertus mengingatkan bahwa Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 menegaskan Indonesia sebagai negara hukum, tetapi hukum hanya akan hidup bila dijalankan manusia yang berhati nurani. Ia merujuk asas ubi societas, ibi ius dan mencontohkan Tanimbar, tempat adat dan persaudaraan telah menjaga ketertiban dan martabat masyarakat jauh sebelum ada pasal tertulis. Kini, saat hukum nasional mengakui hukum yang hidup dalam masyarakat, para sarjana hukum dipanggil menjadi jembatan antara kepastian hukum dan rasa keadilan. Ia juga menyinggung perjalanan studi di ujung tenggara Indonesia, jauh dari pusat keramaian dan penuh keterbatasan, dan menegaskan bahwa gelar tidak datang dalam semalam. “Ia lahir dari satu halaman lagi yang kita baca, satu revisi lagi yang kita kerjakan, dan satu kali lagi kita memilih untuk tidak menyerah,” katanya.
![]()
![]()
Dengan suara haru, Albertus berterima kasih kepada kedua orang tua dan keluarga besarnya, “Dalam hukum perdata, utang dapat dilunasi. Tetapi utang budi saya kepada Bapak dan Mama tidak akan pernah lunas,” ujarnya. Ia menyebut gelar itu bukan miliknya sendiri, melainkan milik kedua orang tuanya. Ia mengajak rekan-rekannya menengok ke sebelah kanan, ke arah ayah dan ibu masing-masing, lalu memimpin tepuk tangan bagi para orang tua. Mengutip ketentuan dalam UU Perkawinan tentang kewajiban orang tua mendidik anak, ia menyebut para orang tua telah menunaikan kewajiban itu “jauh melampaui apa yang pernah tertulis dalam undang-undang”.
![]()
![]()
![]()
Albertus turut menyampaikan terima kasih kepada para dosen Fakultas Hukum: Dekan Lodwyk Wessy, SH., MH; Ketua Program Studi Hukum Dolfries J. Neununy, S.Pd., MH; pembimbing pertama Jusuf Luturmas, SH., MH; pembimbing kedua Aprinska Titabano, SH., MH; serta penguji Benediktus A.A. Terwarat, SH., MH. Menurutnya, para dosen tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga untuk apa ilmu itu ada. Ia juga berterima kasih kepada sahabat seperjuangan, kepada UNLESA yang disebutnya “rumah tempat kami bertumbuh”, serta kepada staf kampus, petugas kebersihan, dan satpam yang disebutnya diam-diam menjaga kenyamanan kampus. Mengutip Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 tentang kesamaan kedudukan di dalam hukum, ia mengatakan para pekerja itu mengajarkan bahwa setiap orang berharga, apa pun pekerjaannya.
Kepada adik-adik yang masih berkuliah, Albertus berpesan agar tidak menyerah dan belajar bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk berguna. Ia juga mengingatkan agar menjaga kejujuran, sebab nilai bisa diperbaiki, tetapi nama baik yang rusak sulit dipulihkan. “Kami tidak pergi meninggalkan kalian. Kami menunggu kalian di depan sana,” ucapnya. Albertus mengajak rekan-rekannya pulang ke tengah masyarakat dengan ilmu, kejujuran, dan hati yang mau melayani, dengan berpegang pada asas fiat justitia ruat caelum, hendaklah keadilan ditegakkan sekalipun langit runtuh. “Hukum yang paling kuat bukanlah yang tertulis di atas kertas, melainkan yang hidup dalam hati manusia yang adil,” tuturnya.
![]()
Lebih lanjut Kepala LLDIKTI Wilayah XII Maluku dan Maluku Utara, Prof. Dr. Saiful Deni, S.Af., M.Si, menilai pelaksanaan wisuda ke-4 menunjukkan penyelenggaraan akademik UNLESA berjalan baik. Ia menyebut UNLESA masuk 10 besar di antara sekitar 44 perguruan tinggi di wilayahnya dan seluruh program studinya telah terakreditasi. Ia juga mendorong pembukaan program studi yang selaras dengan kebutuhan Blok Masela agar SDM lokal dapat terserap industri. “Jadilah tuan di negeri sendiri, bukan penonton di tengah pembangunan,” pesannya kepada para wisudawan.
Dalam sambutan Bupati Kepulauan Tanimbar dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Masyarakat, Paulus A. Sabono.AP menyampaikan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati. Menurutnya, hari wisuda adalah hari istimewa yang dilalui lewat proses panjang, sekaligus bukti nyata dedikasi, kerja keras, dan tekad yang luar biasa. Pemerintah daerah berharap para lulusan dapat mengembangkan ilmu pengetahuannya dan siap terjun dalam misi pembangunan, khususnya pembangunan sumber daya manusia. Bupati menegaskan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan langkah awal menuju tantangan baru. Keberhasilan itu, katanya, tidak hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk direnungkan, sebab menyimpan tanggung jawab besar bagi masa depan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam sambutannya, Bupati menitipkan tiga pesan kepada para wisudawan. Pertama, gelar akademik adalah tanggung jawab sosial. Wisuda disebutnya sebagai pintu gerbang menuju realitas kehidupan yang sesungguhnya. Gelar sarjana, menurutnya, bukan sekadar deretan huruf di belakang nama, melainkan tanggung jawab moral. Masyarakat di luar sana menunggu karya nyata, inovasi, dan kontribusi positif para lulusan untuk memecahkan berbagai tantangan sosial dan ekonomi. Kedua, jadilah agen perubahan yang adaptif. Di tengah era disrupsi teknologi dan perubahan zaman yang kian cepat, Bupati menantang lulusan UNLESA untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta kerja. Ia meminta para lulusan memanfaatkan ilmunya untuk menggali potensi lokal Tanimbar di sektor kelautan, pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif, serta memanfaatkan peluang dari Blok Abadi Masela dan industri yang sudah ada di depan mata. Ketiga, junjung tinggi nilai budaya dan karakter. Bupati berpesan agar para lulusan tetap membumi setinggi apa pun ilmu yang dimiliki. Ia meminta mereka menjaga integritas, kejujuran, etika, dan moral, serta merawat kearifan lokal, termasuk semangat persaudaraan Duan-Lolat dan gotong royong. Ilmu, menurutnya, hendaknya dijadikan alat untuk memanusiakan sesama dan membawa kedamaian.
![]()
Menutup sambutannya, Bupati kembali mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan juga kepada para orang tua, karena jerih payah mereka tidak sia-sia. “Selamat menapaki masa depan, semoga kesuksesan selalu menyertai kalian semua,” demikian bunyi sambutan tersebut. “AT-HMPPK”








